Nurul Fitralaila Tanjung, Wisudawati Terbaik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Pasti banyak di antara kita yang bingung mau melanjutkan kuliah di mana. Ini juga yang dirasakan Nurul Fitralaila Tanjung, wisudawati terbaik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Wisudawati asal Sumatera ini berangkat ke Jakarta untuk menempuh studi Ilmu Politik pada 2018. Perempuan kelahiran 28 Agustus 1999 yang akrab disapa Nurul atau Tanjung, sempat drama saat hendak menentukan pilihan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Awalnya berharap masuk kedokteran, namun ia berpikir bahwa bidang saintek bukanlah passion yang dimilikinya. Akhirnya ia memilih untuk nyebrang jurusan dari saintek ke soshum.

Pertemuan Nurul dengan UMJ tidak lepas dari saudara sepupunya yang memperkenalkan UMJ dan akhirnya menjadi kampus pilihan Nurul untuk belajar. Berangkat ke Jakarta adalah pilihannya tentu dengan dukungan orang tua. Dengan logat Sumatera yang khas, Nurul bercerita bahwa ia ingin sekolah di luar pulau Sumatera. Perjalanan Nurul dari Sumatera ke Jakarta dimudahkan oleh Allah swt. Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena Allah telah membimbingnya dalam mengambil keputusan untuk berkuliah di UMJ.

Di tengah zaman yang semakin maju dan modern ini, Nurul sadar bahwa lingkungan dan pergaulan akan berpengaruh pada kepribadian dan karakternya. Ia bersyukur bisa berkuliah di UMJ, “Kampus islam memang tidak pernah jadi pilihan yang salah bagi saya.” Menurut Nurul, kampus UMJ punya positive vibes dan berpeluang untuk maju. Banyak potensi yang kita punya mulai dari fasilitas, dosen, dan lain-lain. Nurul merasa bahwa ia dan teman-temannya beruntung berada di lingkungan seperti ini, oleh karenanya para mahasiswa harus bisa memaksimalkan potensi diri untuk ikut mendukung kemajuan kampus.

Selama kuliah di UMJ, Nurul merasa mendapat perlakuan hangat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan logat yang khas dan terdengar berbeda dari kebanyakan mahasiswa, Nurul diterima dengan baik dan tidak merasa seperti minoritas. Ia merasa memiliki keluarga, khsususnya di FISIP UMJ. Selain suasana kekeluargaan, suasana kampus islami juga jadi salah satu yang akan Nurul rindukan setelah lulus.

UMJ adalah tempat ia mendapat banyak teman, ilmu, pelajaran. Selama kuliah Nurul memang aktif terlibat di berbagai organisasi kampus, mulai dari himpunan sampai ortom Muhammadiyah (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Ia merasa terdidik dalam hal manajemen waktu dan kedisplinan. Berorganisasi juga yang menjadi wadah bagi Nurul untuk mengungkapkan pendapat, berdiskusi, dan berkarya. Kepercayaan diri Nurul semakin tumbuh dan berkembang selama empat tahun ini. Menurutnya, empat tahun terasa sangat sebentar.

Bicara soal prestasi akademik, Nurul punya arti tersendiri tentang pendidikan. Bagi Nurul, pendidikan itu ibarat cahaya. Terang, bersinar dan bahagia. Menurut Nurul, ‘’Cahaya itu bisa menerangi dan mewarnai hidup kita yang gelap dan kotor. Pendidikan itu kata yang positif relative memberikan kebahagianan. Meski cahaya yang berlebihan kadang menyilaukan mata dan menyakiti.

Jadi, sepenting apa pendidikan? Maka jawabannya, melebihi kata penting yang orang pikirkan. Artinya tidak ada ukuran kata penting dalam pendidikan karena semua yang kita lakukan adalah melalui gerak yang di pikirkan itu termasuk pendidikan. Tetapi untuk arah pendidikan mungkin baru bisa berkonotasi negatif dan positif tergantung ilmu yang di kehendaki. Mungkin pernah dengar syair arab kalau ga salah. Katanya kalau kita mau mendapatkan kebahagian di dunia harus dengan ilmu (pendidikan), kalau kita ingin mendapatkan kebahagiaan di akhirat harus dengan ilmu (pendidikan) dan kalau kita ingin mendapatkan kebahagian di dunia dan di akhirat harus dengan ilmu (pendidikan).

Sejalan dengan arti pendidikan yang ia utarakan, Nurul memiliki banyak harapan dan target yang ingin ia capai dengan keilmuan yang ia miliki. Target tersebut diantaranya, mendapatkan pekerjaan yang sesuai, melanjutkan studi di luar negeri, sampai keinginannya untuk bergabung di NGO internasional. Namun begitu, ia juga sadar bahwa banyak kenyataan yang tidak sesuai rencana dan harapan, ‘’Insya Allah, saya siap menghadapi segala kemungkinan dan resikonya. Karena selama kita berusaha, Allah pasti mewujudkan.’’

Keberhasilan akademik Nurul bukan hanya hasil dari kerja kerasnya, namun juga peran kedua orang tuanya. Bagi Nurul, orang tua adalah segalanya. Sambil tertawa, Nurul bercerita bahwa peran orang tua selain sebagai penunjang finansial, orang tua adalah tempat pertama untuk ia mengadu dan menumpahkan semua curahan hatinya. Doa dan dukungan orang tua sangat berarti bagi Nurul. Berkat doa dan dukungan orang tua, kini Nurul berhasil menyelesaikan studinya dan meraih gelar wisudawati terbaik FISIP UMJ.

Sumber: https://umj.ac.id/opini/nurul-fitralaila-tanjung-wisudawati-terbaik-dari-fakultas-ilmu-sosial-dan-ilmu-politik/